Mahasiswa Ilmu Politik UNY Dalami Mekanisme Alokasi Kursi di KPU Kota Yogyakarta
YOGYAKARTA – Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta (FISIP UNY) menyelenggarakan kegiatan kuliah lapangan ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta pada Selasa (12/5). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman praktis kepada mahasiswa mengenai sistem teknis pemilu di Indonesia. Koordinator Program Studi Ilmu Politik FISIP UNY, Fikri Disyacitta, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari mata kuliah Alokasi Kursi dan Pembagian Bilangan Pembagi Pemilih. Melalui interaksi langsung dengan para komisioner dan staf KPU, mahasiswa diharapkan dapat mensinkronkan teori yang didapat di kelas dengan realitas operasional di lapangan. "Kedatangan kami hari ini adalah untuk kuliah lapangan. Di sini kami belajar banyak hal dari bapak dan ibu di KPU, khususnya terkait pengalaman pengelolaan kursi dan alokasi Daerah Pemilihan (Dapil)," ujar Fikri di sela-sela kegiatan. Dalam sesi tersebut, Erizal, Kadiv Teknis Penyelenggaraan KPU Kota Yogyakarta memaparkan proses rumit di balik penentuan jumlah kursi legislatif serta metode penghitungan suara menjadi kursi yang selama ini digunakan dalam pemilu. Melalui metode saint league Fikri menambahkan bahwa pengalaman ini sangat berharga bagi para mahasiswa untuk memahami dinamika politik dari sisi penyelenggara. "Kami berharap ini menjadi pengalaman berharga bagi adik-adik mahasiswa, sekaligus menjadi ajang berbagi pengalaman (sharing experience) yang bermanfaat bagi studi mereka ke depan," pungkasnya. Kegiatan kuliah lapangan ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif di mana mahasiswa berkesempatan mengajukan pertanyaan terkait tantangan yang dihadapi KPU dalam menjaga transparansi dan akurasi data pemilih serta hasil pemilu di tingkat daerah. ....
Sinergi Lintas Wilayah: KPU Kota Yogyakarta dan KPU Kabupaten Magelang Perkuat Kerja Sama Kelembagaan
Magelang – Dalam upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilu dan memperkuat tata kelola organisasi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta melakukan kunjungan sekaligus koordinasi penguatan kelembagaan ke kantor KPU Kabupaten Magelang pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan diikuti oleh Ketua, Anggota, Sekretaris dan jajaran sekretariat KPU Kota Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan olahraga minisoccer diikuti oleh kedua tim, dilanjutkan dengan saling berbagi praktik terbaik (best practices) terkait peyelenggaraan pemilu dan pilkada. Ketua KPU Kota Yogyakarta, Noor Harsya Aryosamodro menyampaikan bahwa penguatan kelembagaan tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antar-satker untuk menyamakan persepsi dalam menghadapi tantangan tahapan pemilu ke depan. "Kota Yogyakarta dan Kabupaten Magelang memiliki tantangan yang unik. Melalui forum ini, kita saling membedah kendala teknis penyelenggaraan pemilu dan pilkada di daerah masing-masing," jelasnya. Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Magelang, Ahmad Rofik menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, kerja sama ini mempererat solidaritas antar-penyelenggara pemilu di tingkat kabupaten/kota, khususnya di wilayah yang saling berbatasan secara administratif dan sosial. Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk menjaga komunikasi intensif dan saling mendukung dalam setiap tahapan krusial, guna memastikan pemilu yang berintegritas dan berkualitas di wilayah Kabupaten Magelang dan Kota Yogyakarta (Lea) ....
KPU Kota Yogyakarta Gelar Evaluasi Budaya Kerja: Perkuat Integritas dan Pelayanan Prima
YOGYAKARTA – Selasa, 12/5/2026 Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta menyelenggarakan rapat koordinasi internal guna mengevaluasi implementasi budaya kerja KPU Kota Yogyakarta bertempat di Semarangan, Sidokarto, Godean, Sleman diikuti oleh Ketua dan Anggota, Sekretaris beserta seluruh jajaran sekretariat. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan nilai-nilai budaya kerja KPU Kota Yogyakarta TUMANDHANG (Tanggungjawab, Unggul dalam Layanan, Mandiri dan Profesional, Amanah dalam Tugas, Nyaman dalam Budaya Kerja, Disiplin Waktu dan Sikap, Harmonis dalam Tim, Aktif Berinovasi dan Ngayomi) telah terinternalisasi dengan baik dalam setiap tahapan kerja kepemiluan. Fokus utama yang menjadi sorotan evaluasi implementasi budaya kerja adalah peningkatan kualitas layanan publik, disiplin dan akuntabilitas serta soliditas internal. Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Parmas dan SDM KPU Kota Yogyakarta menegaskan bahwa budaya kerja bukan sekadar slogan, melainkan fondasi dalam menjaga kepercayaan publik. "Evaluasi ini penting dilakukan secara berkala. Budaya kerja yang sehat akan berdampak langsung pada integritas hasil pemilu. Kami ingin memastikan setiap personel memiliki komitmen yang sama dalam memberikan pelayanan terbaik bagi warga Kota Yogyakarta," ujarnya. Sementara Sekretaris KPU Kota Yogyakarta dalam arahannya menyampaikan evaluasi implementasi budaya kerja KPU Kota Yogyakarta akan digunakan sebagai bahan perbaikan pelaksanaan budaya kerja yang lebih baik lagi. “Melalui penguatan budaya kerja ini, KPU Kota Yogyakarta berkomitmen untuk terus bertransformasi menjadi lembaga penyelenggara pemilu yang modern, profesional, dan melayani dengan sepenuh hati,” pungkasnya. (Lea) ....
KPU Kota Yogyakarta Hadiri Bedah Buku LKiS , Menjaga Api Demokrasi Pembelajaran dari Gerakan Akar Rumput
YOGYAKARTA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta, bersama jajaran KPU se-DIY menghadiri bedah buku bertajuk “Menjaga Api Demokrasi: Pembelajaran dari Gerakan Akar Rumput” yang digelar Senin (11/5) di Ruang Seminar Lantai 2 Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta Kampus 3 Gedung Bonaventura,. Acara yang diinisiasi oleh Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) bersama Pusat Pengkajian Islam dan Pengembangan Masyarakat (PPIM) ini menjadi ruang refleksi kritis atas kondisi demokrasi Indonesia saat ini. Forum ini mempertemukan akademisi, aktivis, peneliti, hingga kelompok masyarakat rentan untuk mendiskusikan tantangan ruang sipil yang kian menyempit. Buku yang dibedah merangkum 35 kisah inspiratif tentang perjuangan perempuan, anak muda, dan kelompok marginal di empat provinsi. Narasi di dalamnya menekankan bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur formal di bilik suara, melainkan nilai yang harus hidup dalam keseharian warga. "Demokrasi tidak cukup dipahami sebagai prosedur formal pemilu, melainkan harus tumbuh dan berakar dalam praktik keseharian masyarakat," ungkap poin utama dalam diskusi tersebut. Buku “Menjaga Api Demokrasi: Pembelajaran dari Gerakan Akar Rumput” menghimpun berbagai cerita perubahan dari perempuan, orang muda, kelompok disabilitas, hingga komunitas marginal dalam menjaga dan memperluas ruang demokrasi melalui pengalaman nyata di tingkat akar rumput. Bedah buku ini hadir sebagai ruang dialog untuk merefleksikan pentingnya praktik demokrasi yang tumbuh dari komunitas di tengah menyempitnya ruang sipil, politik transaksional, dan maraknya misinformasi. Melalui pendekatan rembug warga, menempatkan komunitas sebagai subyek utama diskusi dan mengajak peserta berbagi pengalaman, pembelajaran, dan gagasan kolektif untuk memperkuat demokrasi. Kehadiran KPU Kota Yogyakarta dalam agenda ini menjadi langkah nyata untuk menyerap aspirasi langsung dari kelompok marginal. Ketua KPU Kota Yogyakarta Noor Harsya Aryosamodro menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan lembaga riset dan organisasi masyarakat sipil demi memperkuat kualitas demokrasi lokal. Salah satu sorotan penting datang dari perwakilan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI). Meskipun mengapresiasi upaya KPU dalam menyediakan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang aksesibel, HWDI mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas Pilkada yang lebih inklusif di masa mendatang. ....
KPU Kota Yogyakarta Beri Dukungan SIGAB Indonesia dalam Pembuatan Proposal Program IFCD UNESCO
YOGYAKARTA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif SIGAB Indonesia (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) dalam membuat proposal program internasional yang didanai oleh International Fund for Cultural Diversity (IFCD) UNESCO. Hal ini tertuang dalam hasil rapat tindak lanjut PKS antara KPU Kota Yogyakarta dan SIGAB Indonesia yang dilaksanakan di Ruang Rapat KPU Kota Yogyakarta, Rabu 6 Mei 2026. Rapat dihadiri oleh ketua dan anggota KPU Kota Yogyakarta, sekretaris, jajaran sekretariat dan perwakilan dari SIGAB Indonesia. Surat dukungan (Letter of Support) yang diberikan mempertegas komitmen KPU Kota Yogyakarta dalam mewujudkan ekosistem demokrasi yang inklusif, di mana seni, budaya, dan hak-hak penyandang disabilitas menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Proposal Program IFCD UNESCO yang dijalankan oleh SIGAB Indonesia ini berfokus pada penguatan partisipasi kelompok difabel dalam industri kreatif dan ekspresi budaya. KPU Kota Yogyakarta melihat hal ini sebagai peluang emas untuk mendialogkan temuan pembelajaran pemilu inklusif untuk perbaikan regulasi pemilu yang semakin inklusif. "Kami menyambut baik kolaborasi ini. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang memastikan tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal, termasuk dalam mengakses ruang-ruang ekspresi budaya dan informasi politik," ujar Ketua KPU Kota Yogyakarta dalam closing statement nya. (Lea) ....
Tak Ada Suara yang Terabaikan: KPU Kota Yogyakarta Hadirkan Pendidikan Pemilih Khusus bagi Warga Lansia Kelurahan Suryodiningratan
Yogyakarta — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta menggelar kegiatan Pendidikan Pemilih dan Sosialisasi Kepemiluan yang secara khusus menyasar kelompok warga lanjut usia (lansia) di Kelurahan Suryodiningratan, Kota Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari komitmen KPU Kota Yogyakarta bahwa setiap warga negara — tanpa memandang usia — berhak mendapatkan akses informasi kepemiluan yang layak, setara, dan bermartabat. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua KPU Kota Yogyakarta, Noor Harsya Aryosamodro, yang dalam sambutan pembukaannya menekankan makna penting dari kehadiran KPU di tengah komunitas lansia. Bagi KPU Kota Yogyakarta, menjangkau kelompok warga senior bukan sekadar memenuhi kewajiban prosedural, melainkan sebuah panggilan nurani kelembagaan untuk memastikan bahwa pengalaman panjang hidup para sesepuh masyarakat tetap tersalurkan secara bermakna melalui hak pilih mereka. "Setiap suara memiliki bobot yang sama di hadapan demokrasi. Kehadiran kami di sini adalah bentuk penghormatan kami kepada Bapak dan Ibu sekalian — bahwa KPU hadir bukan hanya untuk generasi muda, tetapi untuk seluruh warga Kota Yogyakarta tanpa terkecuali. Suara Bapak dan Ibu adalah bagian yang tidak tergantikan dari perjalanan demokrasi kita," ujar Harsya dalam sambutan pembukaannya. Pernyataan tersebut disambut hangat oleh para peserta yang hadir, menciptakan suasana penuh keakraban dan rasa saling percaya antara lembaga penyelenggara pemilu dan warga yang dilayaninya. Sesi pemaparan materi disampaikan oleh dua Anggota KPU Kota Yogyakarta yang membidangi divisi relevan. Anggota KPU yang mengepalai Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia (Sosdiklih Parmas & SDM), Agus Muhamad Yasin, menyampaikan materi mengenai pentingnya partisipasi aktif dalam pemilu serta hak-hak mendasar yang dimiliki setiap pemilih. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang lugas, santun, dan disesuaikan dengan karakteristik peserta lansia — menghindari jargon teknis yang membingungkan, serta menggunakan pendekatan dialogis yang hangat dan mudah dipahami. "Memilih adalah hak yang sangat berharga. Kami ingin memastikan bahwa Bapak dan Ibu memahami bahwa suara yang diberikan di bilik suara adalah suara yang menentukan masa depan kota dan bangsa kita. Tidak ada yang terlalu tua untuk peduli pada masa depan," tutur Anggota KPU Kota Yogyakarta dari Divisi Sosdiklih Parmas & SDM. Selanjutnya, Anggota KPU Kota Yogyakarta yang mengepalai Divisi Perencanaan, Data, dan Informasi, Zuhad Najamuddin, memaparkan informasi teknis seputar kepemiluan, mencakup penjelasan mengenai tahapan pemilu, mekanisme pendaftaran pemilih, sejarah pemilu dalam garis besar, serta informasi praktis yang perlu diketahui pemilih lansia saat berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Secara khusus, disampaikan pula informasi mengenai hak-hak aksesibilitas yang dijamin oleh regulasi kepemiluan bagi pemilih lansia dan penyandang disabilitas — termasuk hak untuk mendapatkan pendampingan, kemudahan akses fisik di TPS, serta prioritas layanan yang wajib diberikan oleh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). "Kami ingin Bapak dan Ibu tahu bahwa TPS adalah tempat yang ramah dan nyaman bagi semua. Petugas kami terlatih untuk memberikan bantuan yang diperlukan. Tidak perlu ragu atau khawatir — semua akan dipastikan berjalan lancar dan menyenangkan," jelas Anggota KPU Kota Yogyakarta dari Divisi Perencanaan, Data, dan Informasi. Antusiasme peserta kegiatan ini tampak jelas sepanjang acara berlangsung. Para warga lansia Kelurahan Suryodiningratan mendengarkan dengan seksama setiap paparan yang disampaikan, dan suasana semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Berbagai pertanyaan mengalir dari para peserta — mulai dari prosedur pemutakhiran data pemilih, cara mendapatkan formulir pindah memilih, mekanisme pemberian suara bagi pemilih yang memiliki keterbatasan fisik, hingga pertanyaan-pertanyaan seputar pentingnya memilih pemimpin yang amanah. Keingintahuan yang tinggi dari para peserta lansia ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berdemokrasi tidak pernah padam oleh usia. Tim KPU Kota Yogyakarta merespons setiap pertanyaan dengan sabar, tuntas, dan penuh empati — memastikan bahwa setiap peserta meninggalkan forum ini dengan pemahaman yang lebih baik dan rasa percaya diri yang lebih besar dalam menggunakan hak pilihnya. Kegiatan pendidikan pemilih bagi warga lansia di Kelurahan Suryodiningratan ini merupakan bagian dari program sosialisasi inklusif KPU Kota Yogyakarta yang menjangkau berbagai segmen masyarakat, termasuk kelompok rentan dan marjinal. Dalam kerangka strategis KPU Kota Yogyakarta, kelompok lansia mendapat perhatian khusus mengingat karakteristik kebutuhan informasi dan aksesibilitas mereka yang berbeda dari kelompok pemilih pada umumnya. Melalui pendekatan yang personal, empatik, dan hadir langsung di tengah komunitas, KPU Kota Yogyakarta menegaskan satu pesan yang sederhana namun kuat: demokrasi adalah milik semua orang — termasuk mereka yang telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk membangun kota dan bangsa ini. Suara mereka adalah warisan, dan warisan itu layak dijaga dengan sepenuh hati. (sals) ....